Kearifan lokal ditengah realitas sosial Arus Modern
Perkembangan arus globalisasi dewasa ini pasca reformasi, perlahan-lahan memasuki disegala sendi kehidupan. Baik itu ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Efek-efek yang kemudian ditimbulkan berpengaruh besar terhadap perkembanagn masyarakat dan kemajuan teknologi di indonesia. Namun efek lainnya nyaris menggorogoti budaya-budaya yang ada dalam kehidupan sosial yang menjadi ciri dan identitas bangsa. Betapa tidak, generasi muda khususnya, dalam konteks hari ini nyaris tidak mengenal lagi budaya lokal yang menjadi warisan nenek moyang. Sebut saja misalnya, dikalangan mahsiswa sendiri mereka lebih sibuk mengkaji dan memperdalam sejarah dan tokoh-tokoh barat disepanjang awal peradaban sampai memasuki era modern atau yang lebih dikenal sebagai postmodernism tanpa mengenal dan mengkaji peristiwa-peristiwa penting disepanjang perjalanan bangsa ini untuk direfleksi ulang dan dijadikan refrensi untuk "wajah" bangsa masa akan datang, oontohnya bagaimana sejarah perjuangan tokoh-tokoh lokal seperti sultan hasanuddin dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, bagaimana sejarah peradaban islam di Indonesia , sejarah lahir dan terbentuknya pulau-pulau yang ada di Nusantara sehingga disebut NKRI dll.
Bukan hanya itu, Unsur-unsur kearifan lokal yang menjadi ciri khas suatu daerah seperti, adat-istiadat, Etika dan kebiasaan sudah perlahan-lahan luntur. Misalnya, di setiap even-even masyarakat kita lebih cenderung menampilkan hal-hal yang mengarah ke erotis seperti dancing, salsa, koreografi dibanding tari-tarian tradisional. Disetiap perhelatan atau pesta lebih cenderung memakai busana-busana atau gaung dengan model ala mariah carey atau britney spears dibanding dengan produk negeri sendiri seperti kebaya dan batik.
Dikalangan dunia mahasiswa sendiri, Budaya-budaya pencerahan intelektual, seperti diskusi, kajian dan pengkaderan yang intensif sudah mulai jarang terlihat. mereka juga sudah terpolarisasi dengan budaya pop yang ada dan hura-hura, sehingga tanpa sadar mereka telah terjurumus menjadi budak dari barang haram yang mematikan (Narkoba dkk) . Dan bagi mereka yang menganggap dirinya anti kemapanan (anti kapitalis) justru terlibat dengan politik-politik praktis, sehingga fungsi dan peranannya sebagai pengontrol sosial untuk kepentingan masyarakat kecil justru terabaikan.
Kamis, 03 September 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Arif memang ki tawwa kak
BalasHapusbagaimana kbr ta dek?
BalasHapus