Sutera Sengkang Kian Merambah Pasar Mode
Awalnya, hanya dijadikan kain biasa, seiring perkembangan sudah jadi industri jadilan sarung sutera sengkang atau lipa' sa'bbe to Sengkang yang terkenal di seluruh penjuru tanah air. Bahkan, merambah ke luar negeri seperti Malaysia yang dibawa oleh para saudagar bugis. Kreativitas tidak sampai disitu, para perajin juga terus melakukan inovasi menyesuaikan dengan trend yang ada, jadilah kebaya dan selendang yang sering dikenakan ketika ada acara resmi seperi pertemuan atau pesta. Dan, saat ini, para perajin sudah mampu mendesain lebih keratif lagi sehingga merambah jadi batik.
Bagaimanakah awal perkembangan sutra di Wajo?
Sengkang merupakan Ibu Kota Kabupaten Wajo, masyarakatnya cukup dikenal dengan kepiawaiannya dalam berdagang. Hal itu yang menjadikan Sengkang populer dengan kota niaga . Tak pelak, jika masyarakatnya yang merantau di daerah lain, dominan sukses jadi saudagar.
Namun, disamping dikenal sebagai kota niaga, industri Sarung Sutera atau lipa' Sabbe yang semakin akrab ditelinga dan hati orang-orang yang pernah berkunjung ke kota ini, kelembutan dan kehalusan hasil tenunan sarung sutera ini sudah cukup dikenal bahkan hingga kemancanegara. Karena itu,Sengkang dijuluki sebagai kOta Sutra, sebab bisa menghasilkan berbagai produk dari Sutra.
Keberadaan Sutra di Wajo sudah ada sejak sekitar 1950-an, namun saat itu hanya produksi untuk rumah tangga saja berupa kain untuk dijadikan sarung biasa. Tapi, karena tuntutan jaman yang mengajak manusia untuk lebih kreatif, sehingga industri sutra menjadi sarung sudah mulai terjun di pasaran. Harganya pun sangat bervariasi, tergantung dari motiv dan corak. Proses pembuatannya juga cukup panjang, setelah murbey diolah sedemikian rupa sehingga menjadi benang sutra. Setelah itu, baru dilakukan proses pewarnaan pencelupan, kemudian dilakukan pemintalan hingga proses akhir penenunan.
Dalam proses penenunan benang sutera menjadi kain sarung sutera masyarakat pada umumnya masih menggunakan peralatan tenun tradisional yaitu alat tenun gedogan. Alat tenun ini merupakan alat tenun tradisional sederhana yang di gerakkan oleh tangan. Alat ini tersebar di pelosok di pedesaan di Kabupaten Wajo dan biasanya di gunakan secara turun menurun oleh para ibu-ibu rumah tangga dan para gadis desa. Hasil dari alat tenun gedogan lebih banyak dalam bentuk kerajinan tenun sutera (lipa' sabbe)yang di kenal dengan kerajinan tenun Sutera rumah tangga.
Produk yang dihasilkan cukup bervariasi dengan berbagai macam motif dan corak yang , diantaranya "Balo Tettong" (bergaris atau tegak), motif"Makkalu" (melingkar), motif "mallobang" (berkotak kosong), motif "Balo Renni" (berkotak kecil). sobbi'-sobbi', bunga lare', bori' kaca, remaja, cobbo', tunrung majang, bunga caggellung, sobbi' subhana, parabola, unga barelle. Harga yang dipatok cukup beragam, tergantung dari motiv dan coraknya, saat ini mulai Rp 300 ribu hingga 500 ribu per lembar.
Selain itu, juga ada yang mengkombinasikan atau menyisipkan "Wennang Sau" (lusi) timbul serta motif "Bali Are" dengan sisipan benang tambahan yang mirip dengan kain Damas.
Disamping gedogan, juga menggunakan Alat tenun bukan mesin (ATBM). ATBM ini pertama kali masuk dan di pergunakan di Kabupaten Wajo pada tahun 1950an, dimana pada awalnya hanya memproduksi kain sarung samarinda.
ATBM ini merupakan bentuk perlatan yang dapat membuat kain tenun yang tidak di gerakkan oleh tenaga mesin melainkan di gerakkan secara manual dengan tenaga manusia. ATBM di sebut juga alat tenun model TIB berasal dari kata “ testile inrichting Bandung “, karena lembaga inilah yang mula-mula menciptakan alat tenun ini di Indonesia sejak tahun 1912 .
Namun, pada tahun 1980an, ATBM ini sudah mulai memproduksi sarung sutera dengan motif balo tettong hingga dalam perkembangan selanjutnya ATBM bukan saja memproduksi kain sutera tetapi lebih di kembangkan dengan memproduksi kain motif testure polos, selendang, perlengkapan bahan pakaian, asesoris rumah tangga,hotel,kantor dan sebagainya berdasarkan permintaan pasar dan konsumen.
Kegiatan pengembangan persuteraan di Kabupaten Wajo dapat ditemui disemua Kecamatan yang ada, namun khusus dalam pengembangan persuteraan alam dan produksi benang sutera terkonsentrasi di Kecamatan Sabbangparu dan daerah pengembangannya tersebar di Kecamatan Pammana, Kecamatan Tempe, Kecamatan Bola, Kecamatan Gilireng, dan Kecamatan Majauleng.Sedangkan sentra industri penenunan sutera terdapat di Kecamatan Tanasitolo dan daerah pengembangannya tersebar di Kecamatan Tempe, Kecamatan Majauleng, dan Kecamatan Pammana.
Karena, jiwa enterpreneurship yang tinggi dimiliki masyarakat Wajo, sehingga berdampak pada tingginya motivasi mereka untuk mengembangkan komoditas sutera dengan berkreasi, sehinggaselalu mencar inovasi baru untuk menciptakan berbagai macam produk asal sutera bahkan menjalin hubungan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha Pertekstilan dari Pulau Jawa termasuk designer-designer ternama Indonesia. (Nurlina Arsyad)
==========================================
Selasa, 30 November 2010
Kamis, 03 Juni 2010
"Ambo.., Ban Sepedaku Robek..., Jalanan Rusak"
* Parodi "Oto-na Award" Meriahkan Malam Anugerah Otonomi Award 2010
"Ambo.., Ban Sepedaku Robek..., Jalanan Rusak"
SEBUAH keluarga sangat sederhana dilanda keributan. Selintas, persoalannya sepele. Itu kalau berlangsung dalam rumah tangga yang tegolong mampu. Namun, persoalan ini termasuk rumit karena melanda sebuah keluarga yang sangat pas-pasan.
Anak tunggal yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu tak henti-hentinya menangis. Ia bahkan terus merengek dan tidak mau pergi sekolah kalau tidak dibelikan sepeda. Sang Ayah (Ambo) yang notabene ketua RT, awalnya tidak mau mengerti.
"Pokoknya, tidak boleh "kaita-ita" (terpengaruh oleh orang lain). Ketika semua tetangga ramai-ramai beli sepeda mahal, mau juga beli sepeda. Cukup jalan kaki saja, karena hanya begitulah kemampuan kita," begitu ayah memberi wejangan kepada anaknya. Sang anak pun terus memberontak. Pokoknya, tidak mau pergi sekolah kalau tidak bersepeda. Sementara Ambo terus juga marah, bahkan memukul anaknya.
Seorang tetangga menegur, “Kenapa dipukul begitu. Nanti anakta sakit.”
“Biarmi, kan adaji kesehatan gratis,” sambut Ambo-na.
Bujukan Ibu (Indo) ternyata cukup ampuh. "Ambo-na, ini bukan persoalan 'kaita-ita’. Ini persoalan kelancaran pendidikan anak kita. Masak tiap hari terlambat terus gara-gara harus berjalan kaki begitu jauh."
"Itu masih kecil masalahnya. Saya, waktu dulu, pergi sekolah jalan kaki tujuh kilometer. Tidak pakai sepatu."
"Iya, tapi hasilnya...?"
"Lihat kaki saya..." (Ibu mengambil pentungan, lalu memukul telapak kaki Ambo-na. Bunyinya seperti gendang).
Ambo-na begitu bangga karena ke mana-mana tidak perlu pakai sendal. Berjalan di atas aspal panas pun tidak terasa. "Ya, hasilnya ini. Hemat, kan, ke mana-mana tidak perlu sendal ataupun sepatu."
Ibu menimpali, "Ambo-na, itu dulu, sekarang, anak-anak sudah memasuki dunia lain... eh, salah, maksudnya dunia yang lain-lain. Aduh, salah lagi…. Maksudnya, anak sekarang sudah lain. Anak-anak sekarang sudah pendidikan gratis. Tidak bayarmi SPP. Jadi, kita belikan saja sepeda kan, Ambo-na!"
Ambo-na berpikir sejenak. Ia menerawang, lalu berujar, "Iye pale, tapi jangan yang mahal-mahal na! Jangan yang seperti sepedanya Pak Aji itu, masak sepeda harganya Rp20 juta. Sama itu harganya sepetak sawah kita. Mau jual sawah? Tidaklah Indo-na. Kan katanya, kita mau hidup sederhana. Sekarang, sepeda sepertinya bukan lagi simbol hidup sederhana. Ada nda sepeda yang bisa ditukar beras? Itu saja ya kita beli!”
Masalah ternyata belum juga selesai. Sang anak sudah dibelikan sepeda, tapi ia menangis lagi. Kali ini sudah menyentuh bagian lain. Ia mengumpat-umpat jalanan yang rusak parah. Gara-gara jalanan itu, setiap hari ban sepedanya meletus. Peleknya bengkok. Maka kini, ia bukannya jalan kaki saja, melainkan lebih susah lagi karena ia harus memanggul sepedanya yang rusak seraya berteriak, “Ambo.., ban sepedaku robek..., jalanan rusak."
Keluarga ini makin kalut. Di tengah kekalutannya, mereka terhibur oleh kabar gembira. Apa itu? Ada pemberitahuan bahwa RT yang dipimpinnya memenangkan "Oto-na Award". Banyak piala yang ia akan boyong sebagai ketua RT. Salah satunya adalah sebagai RT yang warganya paling banyak punya oto (mobil) . RT ini juga yang paling banyak hajinya. Pokoknya, inilah RT yang paling kaya di desa itu, sementara ketua RT-nya paling sederhana dalam hidup sehari-hari.
Kelucuan pun tampak di adegan ini karena Pak RT tidak sanggup membawa pialanya. Ia pun gemetar berpidato seraya berkali-kali menyapa istrinya yang turut menonton penerimaan penghargaan tersebut.
Tema parodi di atas begitu simbolik di tengah-tengah makin gemerlapnya hidup dan kehidupan manusia. Sepeda yang zaman dulu menjadi ikon sebuah kesederhanaan, kini memasuki wilayah elitis. Sepeda sudah menjadi barang mahal yang makin mengeksklusifkan kaum berada dan semakin memarginalkan kaum tak berpunya. Sepeda dengan alasan untuk kesehatan jantung, justru menjadi pemisah jurang “kaum miskin-anak rakyat” dengan kaum berpunya anak pejabat.
Betapa tidak, “kaum miskin-anak rakyat” dengan sepeda ontelnya itu malu bergabung dengan mereka yang bersepeda mewah. Sebaliknya, para pesepeda mahal yang notabene dari kalangan pejabat yang menyuarakan hidup sederhana itu juga berjalan dengan sesama kelompoknya.
Untunglah RT yang dipimpin Ambo-na dalam parodi ini cepat-cepat mengingatkan kita sebuah konten hidup sederhana seorang pejabat. Ambo-na telah berani menanggung risiko hidup sederhana di tengah-tengah warganya yang hidup bergelimang harta. RT yang warganya paling banyak mobilnya dan paling banyak hajinya, sementara ketua RT-nya hanya mampu memiliki sepeda. Itu pun atas desakan anak demi kepentingan sekolah. Inilah sebuah kepemimpinan dari kampung yang bebas dari aroma korupsi.
(Halaman budaya Harian FAJAR, Edisi Minggu, 30 mei 2010)
"Ambo.., Ban Sepedaku Robek..., Jalanan Rusak"
SEBUAH keluarga sangat sederhana dilanda keributan. Selintas, persoalannya sepele. Itu kalau berlangsung dalam rumah tangga yang tegolong mampu. Namun, persoalan ini termasuk rumit karena melanda sebuah keluarga yang sangat pas-pasan.
Anak tunggal yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu tak henti-hentinya menangis. Ia bahkan terus merengek dan tidak mau pergi sekolah kalau tidak dibelikan sepeda. Sang Ayah (Ambo) yang notabene ketua RT, awalnya tidak mau mengerti.
"Pokoknya, tidak boleh "kaita-ita" (terpengaruh oleh orang lain). Ketika semua tetangga ramai-ramai beli sepeda mahal, mau juga beli sepeda. Cukup jalan kaki saja, karena hanya begitulah kemampuan kita," begitu ayah memberi wejangan kepada anaknya. Sang anak pun terus memberontak. Pokoknya, tidak mau pergi sekolah kalau tidak bersepeda. Sementara Ambo terus juga marah, bahkan memukul anaknya.
Seorang tetangga menegur, “Kenapa dipukul begitu. Nanti anakta sakit.”
“Biarmi, kan adaji kesehatan gratis,” sambut Ambo-na.
Bujukan Ibu (Indo) ternyata cukup ampuh. "Ambo-na, ini bukan persoalan 'kaita-ita’. Ini persoalan kelancaran pendidikan anak kita. Masak tiap hari terlambat terus gara-gara harus berjalan kaki begitu jauh."
"Itu masih kecil masalahnya. Saya, waktu dulu, pergi sekolah jalan kaki tujuh kilometer. Tidak pakai sepatu."
"Iya, tapi hasilnya...?"
"Lihat kaki saya..." (Ibu mengambil pentungan, lalu memukul telapak kaki Ambo-na. Bunyinya seperti gendang).
Ambo-na begitu bangga karena ke mana-mana tidak perlu pakai sendal. Berjalan di atas aspal panas pun tidak terasa. "Ya, hasilnya ini. Hemat, kan, ke mana-mana tidak perlu sendal ataupun sepatu."
Ibu menimpali, "Ambo-na, itu dulu, sekarang, anak-anak sudah memasuki dunia lain... eh, salah, maksudnya dunia yang lain-lain. Aduh, salah lagi…. Maksudnya, anak sekarang sudah lain. Anak-anak sekarang sudah pendidikan gratis. Tidak bayarmi SPP. Jadi, kita belikan saja sepeda kan, Ambo-na!"
Ambo-na berpikir sejenak. Ia menerawang, lalu berujar, "Iye pale, tapi jangan yang mahal-mahal na! Jangan yang seperti sepedanya Pak Aji itu, masak sepeda harganya Rp20 juta. Sama itu harganya sepetak sawah kita. Mau jual sawah? Tidaklah Indo-na. Kan katanya, kita mau hidup sederhana. Sekarang, sepeda sepertinya bukan lagi simbol hidup sederhana. Ada nda sepeda yang bisa ditukar beras? Itu saja ya kita beli!”
Masalah ternyata belum juga selesai. Sang anak sudah dibelikan sepeda, tapi ia menangis lagi. Kali ini sudah menyentuh bagian lain. Ia mengumpat-umpat jalanan yang rusak parah. Gara-gara jalanan itu, setiap hari ban sepedanya meletus. Peleknya bengkok. Maka kini, ia bukannya jalan kaki saja, melainkan lebih susah lagi karena ia harus memanggul sepedanya yang rusak seraya berteriak, “Ambo.., ban sepedaku robek..., jalanan rusak."
Keluarga ini makin kalut. Di tengah kekalutannya, mereka terhibur oleh kabar gembira. Apa itu? Ada pemberitahuan bahwa RT yang dipimpinnya memenangkan "Oto-na Award". Banyak piala yang ia akan boyong sebagai ketua RT. Salah satunya adalah sebagai RT yang warganya paling banyak punya oto (mobil) . RT ini juga yang paling banyak hajinya. Pokoknya, inilah RT yang paling kaya di desa itu, sementara ketua RT-nya paling sederhana dalam hidup sehari-hari.
Kelucuan pun tampak di adegan ini karena Pak RT tidak sanggup membawa pialanya. Ia pun gemetar berpidato seraya berkali-kali menyapa istrinya yang turut menonton penerimaan penghargaan tersebut.
Tema parodi di atas begitu simbolik di tengah-tengah makin gemerlapnya hidup dan kehidupan manusia. Sepeda yang zaman dulu menjadi ikon sebuah kesederhanaan, kini memasuki wilayah elitis. Sepeda sudah menjadi barang mahal yang makin mengeksklusifkan kaum berada dan semakin memarginalkan kaum tak berpunya. Sepeda dengan alasan untuk kesehatan jantung, justru menjadi pemisah jurang “kaum miskin-anak rakyat” dengan kaum berpunya anak pejabat.
Betapa tidak, “kaum miskin-anak rakyat” dengan sepeda ontelnya itu malu bergabung dengan mereka yang bersepeda mewah. Sebaliknya, para pesepeda mahal yang notabene dari kalangan pejabat yang menyuarakan hidup sederhana itu juga berjalan dengan sesama kelompoknya.
Untunglah RT yang dipimpin Ambo-na dalam parodi ini cepat-cepat mengingatkan kita sebuah konten hidup sederhana seorang pejabat. Ambo-na telah berani menanggung risiko hidup sederhana di tengah-tengah warganya yang hidup bergelimang harta. RT yang warganya paling banyak mobilnya dan paling banyak hajinya, sementara ketua RT-nya hanya mampu memiliki sepeda. Itu pun atas desakan anak demi kepentingan sekolah. Inilah sebuah kepemimpinan dari kampung yang bebas dari aroma korupsi.
(Halaman budaya Harian FAJAR, Edisi Minggu, 30 mei 2010)
Langganan:
Postingan (Atom)