Kamis, 03 Juni 2010

"Ambo.., Ban Sepedaku Robek..., Jalanan Rusak"

* Parodi "Oto-na Award" Meriahkan Malam Anugerah Otonomi Award 2010



"Ambo.., Ban Sepedaku Robek..., Jalanan Rusak"


SEBUAH keluarga sangat sederhana dilanda keributan. Selintas, persoalannya sepele. Itu kalau berlangsung dalam rumah tangga yang tegolong mampu. Namun, persoalan ini termasuk rumit karena melanda sebuah keluarga yang sangat pas-pasan.

Anak tunggal yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu tak henti-hentinya menangis. Ia bahkan terus merengek dan tidak mau pergi sekolah kalau tidak dibelikan sepeda. Sang Ayah (Ambo) yang notabene ketua RT, awalnya tidak mau mengerti.

"Pokoknya, tidak boleh "kaita-ita" (terpengaruh oleh orang lain). Ketika semua tetangga ramai-ramai beli sepeda mahal, mau juga beli sepeda. Cukup jalan kaki saja, karena hanya begitulah kemampuan kita," begitu ayah memberi wejangan kepada anaknya. Sang anak pun terus memberontak. Pokoknya, tidak mau pergi sekolah kalau tidak bersepeda. Sementara Ambo terus juga marah, bahkan memukul anaknya.

Seorang tetangga menegur, “Kenapa dipukul begitu. Nanti anakta sakit.”
“Biarmi, kan adaji kesehatan gratis,” sambut Ambo-na.

Bujukan Ibu (Indo) ternyata cukup ampuh. "Ambo-na, ini bukan persoalan 'kaita-ita’. Ini persoalan kelancaran pendidikan anak kita. Masak tiap hari terlambat terus gara-gara harus berjalan kaki begitu jauh."

"Itu masih kecil masalahnya. Saya, waktu dulu, pergi sekolah jalan kaki tujuh kilometer. Tidak pakai sepatu."
"Iya, tapi hasilnya...?"
"Lihat kaki saya..." (Ibu mengambil pentungan, lalu memukul telapak kaki Ambo-na. Bunyinya seperti gendang).

Ambo-na begitu bangga karena ke mana-mana tidak perlu pakai sendal. Berjalan di atas aspal panas pun tidak terasa. "Ya, hasilnya ini. Hemat, kan, ke mana-mana tidak perlu sendal ataupun sepatu."

Ibu menimpali, "Ambo-na, itu dulu, sekarang, anak-anak sudah memasuki dunia lain... eh, salah, maksudnya dunia yang lain-lain. Aduh, salah lagi…. Maksudnya, anak sekarang sudah lain. Anak-anak sekarang sudah pendidikan gratis. Tidak bayarmi SPP. Jadi, kita belikan saja sepeda kan, Ambo-na!"


Ambo-na berpikir sejenak. Ia menerawang, lalu berujar, "Iye pale, tapi jangan yang mahal-mahal na! Jangan yang seperti sepedanya Pak Aji itu, masak sepeda harganya Rp20 juta. Sama itu harganya sepetak sawah kita. Mau jual sawah? Tidaklah Indo-na. Kan katanya, kita mau hidup sederhana. Sekarang, sepeda sepertinya bukan lagi simbol hidup sederhana. Ada nda sepeda yang bisa ditukar beras? Itu saja ya kita beli!”

Masalah ternyata belum juga selesai. Sang anak sudah dibelikan sepeda, tapi ia menangis lagi. Kali ini sudah menyentuh bagian lain. Ia mengumpat-umpat jalanan yang rusak parah. Gara-gara jalanan itu, setiap hari ban sepedanya meletus. Peleknya bengkok. Maka kini, ia bukannya jalan kaki saja, melainkan lebih susah lagi karena ia harus memanggul sepedanya yang rusak seraya berteriak, “Ambo.., ban sepedaku robek..., jalanan rusak."



Keluarga ini makin kalut. Di tengah kekalutannya, mereka terhibur oleh kabar gembira. Apa itu? Ada pemberitahuan bahwa RT yang dipimpinnya memenangkan "Oto-na Award". Banyak piala yang ia akan boyong sebagai ketua RT. Salah satunya adalah sebagai RT yang warganya paling banyak punya oto (mobil) . RT ini juga yang paling banyak hajinya. Pokoknya, inilah RT yang paling kaya di desa itu, sementara ketua RT-nya paling sederhana dalam hidup sehari-hari.

Kelucuan pun tampak di adegan ini karena Pak RT tidak sanggup membawa pialanya. Ia pun gemetar berpidato seraya berkali-kali menyapa istrinya yang turut menonton penerimaan penghargaan tersebut.

Tema parodi di atas begitu simbolik di tengah-tengah makin gemerlapnya hidup dan kehidupan manusia. Sepeda yang zaman dulu menjadi ikon sebuah kesederhanaan, kini memasuki wilayah elitis. Sepeda sudah menjadi barang mahal yang makin mengeksklusifkan kaum berada dan semakin memarginalkan kaum tak berpunya. Sepeda dengan alasan untuk kesehatan jantung, justru menjadi pemisah jurang “kaum miskin-anak rakyat” dengan kaum berpunya anak pejabat.

Betapa tidak, “kaum miskin-anak rakyat” dengan sepeda ontelnya itu malu bergabung dengan mereka yang bersepeda mewah. Sebaliknya, para pesepeda mahal yang notabene dari kalangan pejabat yang menyuarakan hidup sederhana itu juga berjalan dengan sesama kelompoknya.

Untunglah RT yang dipimpin Ambo-na dalam parodi ini cepat-cepat mengingatkan kita sebuah konten hidup sederhana seorang pejabat. Ambo-na telah berani menanggung risiko hidup sederhana di tengah-tengah warganya yang hidup bergelimang harta. RT yang warganya paling banyak mobilnya dan paling banyak hajinya, sementara ketua RT-nya hanya mampu memiliki sepeda. Itu pun atas desakan anak demi kepentingan sekolah. Inilah sebuah kepemimpinan dari kampung yang bebas dari aroma korupsi.
(Halaman budaya Harian FAJAR, Edisi Minggu, 30 mei 2010)