Jumat, 11 September 2009


Percikan Alami Kota Kecilku ditengah Realitas Hidup Di Metropolitan....

K
utatap dari jauh hingar bingar kendaraan lalu lalang dengan suara bising disudut kota metroplolis ini. Bangunan yang tinggi nan megah nampak bagai raksasa yang siap menerkam bangunan-bangunan kecil yang ada disekelilingnya. Matahari semakin redup pertanda waktu akan berganti dari sore menjadi malam. Terlihat dipinggir jalan ramai penjajal es dan aneka kue untuk menu buka puasa bagi mereka yang sementara berada dijalan maupun mereka yang tidak ingin susah masak seperti anak kost atau mereka yang super sibuk.

Saya teringat waktu suasana puasa dikampung, saat itu masih duduk di bangku SMA dulu, maklum semasa kuliah di Makassar jarang pulang pada saat musim puasa. Setiap sore disepanjang jalan hanya terlihat anak-anak berkumpul bermain, ada yang naik sepeda kesana-kemari ada pula yang kejar-kejaran, sesekali bunyi kendaraan melintas dijalan. Maklum, tanah kelahiranku adalah kawasan pinggiran kota dengan infrastruktur jalan yang belum memadai. Padahal masih termasuk wilayah kota Sengkang. Sejuk terasa melihat pemandangan setiap sore dipenuhi dengan canda-tawa anak-anak itu. Berkumpul bersama keluarga sambil tunggu azan mesjid berkumandang.

Kini, selama kurang lebih empat tahun lamanya, nyaris tidak pernah merasakan indahnya kebersamaan bersama mereka, menikmati sejuknya angin sepoi-sepoi dari pepohonan yang ada. Sungai jernih yang membentang dari arus sungai Kabupaten Soppeng, nyaris selalu ramai disore hari oleh nyanyian muda-mudi.

Ahh..., Ingin rasa pulang menikmati nuansa alam yang selalu membuat hati damai, yang jauh dari kebisingan dan gedung-gedung mewah ditengah banyaknya tempat-tempat kumuh dan terisolir. Kepala tiap hari penat dengan asap kendaraan yang melintas dan debu beterbangan. Terkadang air PDAM tidak mengalir, sehingga harus ngirit air.

Percikan alami sebuah kota kecil bersama sanak keluarga jauh lebih Indah dan mendatangkan kedamaian......

Kamis, 03 September 2009

Kearifan lokal ditengah realitas sosial Arus Modern

Perkembangan arus globalisasi dewasa ini pasca reformasi, perlahan-lahan memasuki disegala sendi kehidupan. Baik itu ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Efek-efek yang kemudian ditimbulkan berpengaruh besar terhadap perkembanagn masyarakat dan kemajuan teknologi di indonesia. Namun efek lainnya nyaris menggorogoti budaya-budaya yang ada dalam kehidupan sosial yang menjadi ciri dan identitas bangsa. Betapa tidak, generasi muda khususnya, dalam konteks hari ini nyaris tidak mengenal lagi budaya lokal yang menjadi warisan nenek moyang. Sebut saja misalnya, dikalangan mahsiswa sendiri mereka lebih sibuk mengkaji dan memperdalam sejarah dan tokoh-tokoh barat disepanjang awal peradaban sampai memasuki era modern atau yang lebih dikenal sebagai postmodernism tanpa mengenal dan mengkaji peristiwa-peristiwa penting disepanjang perjalanan bangsa ini untuk direfleksi ulang dan dijadikan refrensi untuk "wajah" bangsa masa akan datang, oontohnya bagaimana sejarah perjuangan tokoh-tokoh lokal seperti sultan hasanuddin dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, bagaimana sejarah peradaban islam di Indonesia , sejarah lahir dan terbentuknya pulau-pulau yang ada di Nusantara sehingga disebut NKRI dll.

Bukan hanya itu, Unsur-unsur kearifan lokal yang menjadi ciri khas suatu daerah seperti, adat-istiadat, Etika dan kebiasaan sudah perlahan-lahan luntur. Misalnya, di setiap even-even masyarakat kita lebih cenderung menampilkan hal-hal yang mengarah ke erotis seperti dancing, salsa, koreografi dibanding tari-tarian tradisional. Disetiap perhelatan atau pesta lebih cenderung memakai busana-busana atau gaung dengan model ala mariah carey atau britney spears dibanding dengan produk negeri sendiri seperti kebaya dan batik.

Dikalangan dunia mahasiswa sendiri, Budaya-budaya pencerahan intelektual, seperti diskusi, kajian dan pengkaderan yang intensif sudah mulai jarang terlihat. mereka juga sudah terpolarisasi dengan budaya pop yang ada dan hura-hura, sehingga tanpa sadar mereka telah terjurumus menjadi budak dari barang haram yang mematikan (Narkoba dkk) . Dan bagi mereka yang menganggap dirinya anti kemapanan (anti kapitalis) justru terlibat dengan politik-politik praktis, sehingga fungsi dan peranannya sebagai pengontrol sosial untuk kepentingan masyarakat kecil justru terabaikan.