Mengembalikan kejayaan sutera Wajo***
Bahan Baku Langka, Pemkab Subsidi Telur Ulat ke Petani
Laporan: Nurlina Arsyad, Sengkang, Wajo
Kualitas sutera Wajo kian tahun terus menurun. Kelangkaan bahan baku dari daerah penyuplai mengakibatkan harga benang sutera semakin mahal di tingkat petani. Alternatifnya, para pengrajin beralih menggunakan benang sutera India.
Kelembutan dan kehalusan hasil tenunan sutera Kabupaten Wajo, tidak diragukan lagi di seantero nusantara hingga mancanegara. Itu pula sehingga Sengkang – ibu kota Kabupaten Wajo dijuluki sebagai kota sutera.
Sayang, dalam perjalanannya sejak 1950-an, perkembangan industri persuteraan alam beberapa tahun belakangan ini mengalami kemorosotan akibat kelangkaan bahan baku sutera lokal (sutera asli). Akibatnya, para pengrajin harus beralih menggunakan benang sutera India. Selain harganya yang cukup murah juga proses pengelolaan sampai menghasilkan kain juga relatif singkat. Sekilas tidak ada perbedaan, namun produk sutera lokal lebih lembut kainnya.
Seperti pengrajin maupun pemilik industri rumah tangga kerajinan sutera di Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo. Daerah ini dikenal sebagai salah satu desa sentra tenun sutera. Sebab, sekitar 90 persen berkecimpun dalam industri sutera.
Sementara daerah pengembangan tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Tempe, Majauleng, dan Pammana, sedangkan pembibitan ulat sebagai bahan baku sutera, ada di Kecamatan Sabbangparu.
Seorang pengrajin sekaligus pengusaha tenun, Nunju, 60, mengatakan, dia bersama para pengrajin lainnya di Desa Pakkanna dulunya menenun sutera asli. Namun, setelah harga benang sutera melambung tinggi dan pelanggan tidak mampu beli, dia pun berpikir untuk mencari benang sutera yang lebih murah.
"Awalnya, waktu saya coba-coba tenun sutera India, orang sulit menerima karena kualitasnya lebih rendah dibanding
sutera asli. Tapi, lambat laun harga kain sutera asli sangat mahal dan kebutuhan masyarakat juga semakin tinggi, maka diterimalah produk sutera India," tandasnya.
Kelebihan lainnya, pengelolaan sutera India tidak menyita banyak waktu, sebab tidak perlu lagi ada proses pewarnaan, tapi sisa dipintal kemudian ditenun. Proses kerjanya juga cepat namun variatif, tergantung corak dan motifnya.
Harganya, sebut pengrajin, juga relatif murah berkisar Rp50 ribu hingga Rp120 ribu dengan panjang 4 meter. “Benang sutera India ini banyak dijual di toko-toko tekstil yang ada di Sengkang,” ujarnya.
Tapi, tentu saja, hasil tenun sutera asli (lokal) lebih lembut dibanding sutera India dan Samarinda. Terlebih, jika menggunakan alat tenun gedongan. Harga jualnya juga relatif lebih tinggi. Para pengrajin biasa menjual dengan harga Rp500 ribu hingga Rp600 ribu/kg, tapi bisa menghasilkan 4 lembar kain.
"Benang sutera lokal sekarang sudah jarang dijumpai, mana lagi harganya sangat mahal baru keuntungan tidak seberapa karena tidak ada pedagang yang mampu beli kalau harga terlalu mahal," sambung pengusaha tenun lain, Laufe, 55.
Baik Nunju maupun Laufe, memiliki puluhan pengrajin tenun. Mereka inilah yang mampu menghasilkan ratusan kain sutera setiap minggu. Mereka diupah, antara Rp20 ribu-Rp35 ribu per lembar. Nunju misalnya, yang memiliki sekitar 60 penenun mampu menghsilkan 200 lembar kain sutera India setiap minggu.
"Kalau ada yang jadi, langsung diambil pedagang sentral kemudian dibawa ke Makassar. Ada juga pedagang dari Kendari. Kelebihannya, kain sutera China bisa dibuat baju, selendang, maupun sarung karena tidak terlalu kaku," tandasnya.
Begitupun dengan Hajra bersama Mustamin Bake. Pasangan ini juga sudah beralih menggunakan bahan sutera India akibat mahalnya bahan sutera lokal. Saat ini, mereka memiliki puluhan penenun yang tersebar di wilayah Bone dan Soppeng. Setiap pekan, ada sekitar 70 hingga 100 lembar kain yang terkumpul.
"Sekarang sisa hitung jari saja pengrajin sutera yang menggunakan bahan sutera lokal, kecuali mereka yang punya modal besar,"tandasnya.
Sementara, pengolahan bahan baku mulai dari bibit atau telur ulat sehingga bisa menghasilkan sutera yang sudah dipintal hanya bisa dijumpai di Kecamatan Sabbangparu, misalnya lingkungan Salojampu Kelurahan Sompe, Desa Mellusesalo Kelurahan Salotengnga.
Hanya saja, saat FAJAR bertandang ke tempat ini beberapa waktu lalu, sangat jarang masyarakat di Sabbangparu yang dijumpai memelihara ulat, khususnya di Mellusesalo Kelurahan Salotengnga.
Malah, para pegusaha ulat tersebut sudah banyak yang gulung tikar. Lahan murbei yang luasnya puluhan hektare sudah dibabat habis dan mereka beralih jadi petani kakao.
"Dulu hampir semua masyarakat di sini memelihara ulat, tapi banyak yang tidak berhasil, sebab bibit ulat peru yang dibeli dari Balai Persuteraan Alam (BPA) kualitasnya tidak bagus bahkan banyak yang rusak, sehingga masyarakat lebih
memilih mencari pekerjaan lain, karena ongkosnya tidak sebanding dengan hasilnya. Kami berharap Pemkab menyuplai ulat China yang jauh lebih bagus kualitasnya, kendati harganya mahal" jelasnya.
Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wajo, Andi Ampa Passamula mengakui kondisi tersebut. Menurut dia mahalnya benang sutera lokal, karena daerah asal bahan baku seperti Enrekang dan Soppeng sudah tidak
mampu menyuplai lagi. Sehingga, terjadi kelangkaan. Bahan baku sutera lokal ini menggunakan ulat peru. Ada juga ulat China.
"Tapi, ada sebagain yang masih mempertahankan sutera asli, seperti para pengusaha yang punya modal besar," tandasnya.
Meskipun begitu, Andi Ampa Passamula mengaku melalui bantuan permodalan yang diberikan kepada kelompok pengrajin, bupati Wajo bertekad akan mengembalikan kejayaan persuteraan di Wajo. Begitupun juga dengan para petani murbei, akan
diberi bantuan tanaman murbei untuk membantu peternakan ulat terutama di Sabbangparu.
Hal senada diungkap Kadis Kehutanan dan Perkebunan, Andi Darwin Cukke. Menurut dia, Pemkab Wajo saat ini ingin melakukan reformasi persuteraan alam, yang sebelumnya masyarakat hanya bisa menenun kain dengan mengandalkan benang sutera dari Soppeng dan Enrekang. Tapi saat ini, kata dia, berupaya mengolah bahan baku sendiri dari pembibitan ulat menjadi benang. Meskipun, sudah ada beberapa desa yang memiliki peternakan ulat.
Saat ini, Dinas Kehutanan dan Perkebunan mulai mensubsidi telur ulat (bibit) kepada petani secara cuma-cuma, juga mensosialisasikan pembersihan ruang pemeliharaan telur. Malah sebelumnya Dishutbun hanya mampu menyuplai 6o box bibit, namun saat ini sudah mampu menyediakan 70 box bibit. Dalam 1 box, biasa menghasilkan sampai 5 kilogram benang. (*) (Harian Fajar edisi 10 Juni 2011
Sabtu, 11 Juni 2011
Langganan:
Postingan (Atom)