Mengembalikan kejayaan sutera Wajo***
Bahan Baku Langka, Pemkab Subsidi Telur Ulat ke Petani
Laporan: Nurlina Arsyad, Sengkang, Wajo
Kualitas sutera Wajo kian tahun terus menurun. Kelangkaan bahan baku dari daerah penyuplai mengakibatkan harga benang sutera semakin mahal di tingkat petani. Alternatifnya, para pengrajin beralih menggunakan benang sutera India.
Kelembutan dan kehalusan hasil tenunan sutera Kabupaten Wajo, tidak diragukan lagi di seantero nusantara hingga mancanegara. Itu pula sehingga Sengkang – ibu kota Kabupaten Wajo dijuluki sebagai kota sutera.
Sayang, dalam perjalanannya sejak 1950-an, perkembangan industri persuteraan alam beberapa tahun belakangan ini mengalami kemorosotan akibat kelangkaan bahan baku sutera lokal (sutera asli). Akibatnya, para pengrajin harus beralih menggunakan benang sutera India. Selain harganya yang cukup murah juga proses pengelolaan sampai menghasilkan kain juga relatif singkat. Sekilas tidak ada perbedaan, namun produk sutera lokal lebih lembut kainnya.
Seperti pengrajin maupun pemilik industri rumah tangga kerajinan sutera di Desa Pakkanna, Kecamatan Tanasitolo. Daerah ini dikenal sebagai salah satu desa sentra tenun sutera. Sebab, sekitar 90 persen berkecimpun dalam industri sutera.
Sementara daerah pengembangan tersebar di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Tempe, Majauleng, dan Pammana, sedangkan pembibitan ulat sebagai bahan baku sutera, ada di Kecamatan Sabbangparu.
Seorang pengrajin sekaligus pengusaha tenun, Nunju, 60, mengatakan, dia bersama para pengrajin lainnya di Desa Pakkanna dulunya menenun sutera asli. Namun, setelah harga benang sutera melambung tinggi dan pelanggan tidak mampu beli, dia pun berpikir untuk mencari benang sutera yang lebih murah.
"Awalnya, waktu saya coba-coba tenun sutera India, orang sulit menerima karena kualitasnya lebih rendah dibanding
sutera asli. Tapi, lambat laun harga kain sutera asli sangat mahal dan kebutuhan masyarakat juga semakin tinggi, maka diterimalah produk sutera India," tandasnya.
Kelebihan lainnya, pengelolaan sutera India tidak menyita banyak waktu, sebab tidak perlu lagi ada proses pewarnaan, tapi sisa dipintal kemudian ditenun. Proses kerjanya juga cepat namun variatif, tergantung corak dan motifnya.
Harganya, sebut pengrajin, juga relatif murah berkisar Rp50 ribu hingga Rp120 ribu dengan panjang 4 meter. “Benang sutera India ini banyak dijual di toko-toko tekstil yang ada di Sengkang,” ujarnya.
Tapi, tentu saja, hasil tenun sutera asli (lokal) lebih lembut dibanding sutera India dan Samarinda. Terlebih, jika menggunakan alat tenun gedongan. Harga jualnya juga relatif lebih tinggi. Para pengrajin biasa menjual dengan harga Rp500 ribu hingga Rp600 ribu/kg, tapi bisa menghasilkan 4 lembar kain.
"Benang sutera lokal sekarang sudah jarang dijumpai, mana lagi harganya sangat mahal baru keuntungan tidak seberapa karena tidak ada pedagang yang mampu beli kalau harga terlalu mahal," sambung pengusaha tenun lain, Laufe, 55.
Baik Nunju maupun Laufe, memiliki puluhan pengrajin tenun. Mereka inilah yang mampu menghasilkan ratusan kain sutera setiap minggu. Mereka diupah, antara Rp20 ribu-Rp35 ribu per lembar. Nunju misalnya, yang memiliki sekitar 60 penenun mampu menghsilkan 200 lembar kain sutera India setiap minggu.
"Kalau ada yang jadi, langsung diambil pedagang sentral kemudian dibawa ke Makassar. Ada juga pedagang dari Kendari. Kelebihannya, kain sutera China bisa dibuat baju, selendang, maupun sarung karena tidak terlalu kaku," tandasnya.
Begitupun dengan Hajra bersama Mustamin Bake. Pasangan ini juga sudah beralih menggunakan bahan sutera India akibat mahalnya bahan sutera lokal. Saat ini, mereka memiliki puluhan penenun yang tersebar di wilayah Bone dan Soppeng. Setiap pekan, ada sekitar 70 hingga 100 lembar kain yang terkumpul.
"Sekarang sisa hitung jari saja pengrajin sutera yang menggunakan bahan sutera lokal, kecuali mereka yang punya modal besar,"tandasnya.
Sementara, pengolahan bahan baku mulai dari bibit atau telur ulat sehingga bisa menghasilkan sutera yang sudah dipintal hanya bisa dijumpai di Kecamatan Sabbangparu, misalnya lingkungan Salojampu Kelurahan Sompe, Desa Mellusesalo Kelurahan Salotengnga.
Hanya saja, saat FAJAR bertandang ke tempat ini beberapa waktu lalu, sangat jarang masyarakat di Sabbangparu yang dijumpai memelihara ulat, khususnya di Mellusesalo Kelurahan Salotengnga.
Malah, para pegusaha ulat tersebut sudah banyak yang gulung tikar. Lahan murbei yang luasnya puluhan hektare sudah dibabat habis dan mereka beralih jadi petani kakao.
"Dulu hampir semua masyarakat di sini memelihara ulat, tapi banyak yang tidak berhasil, sebab bibit ulat peru yang dibeli dari Balai Persuteraan Alam (BPA) kualitasnya tidak bagus bahkan banyak yang rusak, sehingga masyarakat lebih
memilih mencari pekerjaan lain, karena ongkosnya tidak sebanding dengan hasilnya. Kami berharap Pemkab menyuplai ulat China yang jauh lebih bagus kualitasnya, kendati harganya mahal" jelasnya.
Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Wajo, Andi Ampa Passamula mengakui kondisi tersebut. Menurut dia mahalnya benang sutera lokal, karena daerah asal bahan baku seperti Enrekang dan Soppeng sudah tidak
mampu menyuplai lagi. Sehingga, terjadi kelangkaan. Bahan baku sutera lokal ini menggunakan ulat peru. Ada juga ulat China.
"Tapi, ada sebagain yang masih mempertahankan sutera asli, seperti para pengusaha yang punya modal besar," tandasnya.
Meskipun begitu, Andi Ampa Passamula mengaku melalui bantuan permodalan yang diberikan kepada kelompok pengrajin, bupati Wajo bertekad akan mengembalikan kejayaan persuteraan di Wajo. Begitupun juga dengan para petani murbei, akan
diberi bantuan tanaman murbei untuk membantu peternakan ulat terutama di Sabbangparu.
Hal senada diungkap Kadis Kehutanan dan Perkebunan, Andi Darwin Cukke. Menurut dia, Pemkab Wajo saat ini ingin melakukan reformasi persuteraan alam, yang sebelumnya masyarakat hanya bisa menenun kain dengan mengandalkan benang sutera dari Soppeng dan Enrekang. Tapi saat ini, kata dia, berupaya mengolah bahan baku sendiri dari pembibitan ulat menjadi benang. Meskipun, sudah ada beberapa desa yang memiliki peternakan ulat.
Saat ini, Dinas Kehutanan dan Perkebunan mulai mensubsidi telur ulat (bibit) kepada petani secara cuma-cuma, juga mensosialisasikan pembersihan ruang pemeliharaan telur. Malah sebelumnya Dishutbun hanya mampu menyuplai 6o box bibit, namun saat ini sudah mampu menyediakan 70 box bibit. Dalam 1 box, biasa menghasilkan sampai 5 kilogram benang. (*) (Harian Fajar edisi 10 Juni 2011
Sabtu, 11 Juni 2011
Selasa, 30 November 2010
Sutera Sengkang Terus "membuai" pasaran
Sutera Sengkang Kian Merambah Pasar Mode
Awalnya, hanya dijadikan kain biasa, seiring perkembangan sudah jadi industri jadilan sarung sutera sengkang atau lipa' sa'bbe to Sengkang yang terkenal di seluruh penjuru tanah air. Bahkan, merambah ke luar negeri seperti Malaysia yang dibawa oleh para saudagar bugis. Kreativitas tidak sampai disitu, para perajin juga terus melakukan inovasi menyesuaikan dengan trend yang ada, jadilah kebaya dan selendang yang sering dikenakan ketika ada acara resmi seperi pertemuan atau pesta. Dan, saat ini, para perajin sudah mampu mendesain lebih keratif lagi sehingga merambah jadi batik.
Bagaimanakah awal perkembangan sutra di Wajo?
Sengkang merupakan Ibu Kota Kabupaten Wajo, masyarakatnya cukup dikenal dengan kepiawaiannya dalam berdagang. Hal itu yang menjadikan Sengkang populer dengan kota niaga . Tak pelak, jika masyarakatnya yang merantau di daerah lain, dominan sukses jadi saudagar.
Namun, disamping dikenal sebagai kota niaga, industri Sarung Sutera atau lipa' Sabbe yang semakin akrab ditelinga dan hati orang-orang yang pernah berkunjung ke kota ini, kelembutan dan kehalusan hasil tenunan sarung sutera ini sudah cukup dikenal bahkan hingga kemancanegara. Karena itu,Sengkang dijuluki sebagai kOta Sutra, sebab bisa menghasilkan berbagai produk dari Sutra.
Keberadaan Sutra di Wajo sudah ada sejak sekitar 1950-an, namun saat itu hanya produksi untuk rumah tangga saja berupa kain untuk dijadikan sarung biasa. Tapi, karena tuntutan jaman yang mengajak manusia untuk lebih kreatif, sehingga industri sutra menjadi sarung sudah mulai terjun di pasaran. Harganya pun sangat bervariasi, tergantung dari motiv dan corak. Proses pembuatannya juga cukup panjang, setelah murbey diolah sedemikian rupa sehingga menjadi benang sutra. Setelah itu, baru dilakukan proses pewarnaan pencelupan, kemudian dilakukan pemintalan hingga proses akhir penenunan.
Dalam proses penenunan benang sutera menjadi kain sarung sutera masyarakat pada umumnya masih menggunakan peralatan tenun tradisional yaitu alat tenun gedogan. Alat tenun ini merupakan alat tenun tradisional sederhana yang di gerakkan oleh tangan. Alat ini tersebar di pelosok di pedesaan di Kabupaten Wajo dan biasanya di gunakan secara turun menurun oleh para ibu-ibu rumah tangga dan para gadis desa. Hasil dari alat tenun gedogan lebih banyak dalam bentuk kerajinan tenun sutera (lipa' sabbe)yang di kenal dengan kerajinan tenun Sutera rumah tangga.
Produk yang dihasilkan cukup bervariasi dengan berbagai macam motif dan corak yang , diantaranya "Balo Tettong" (bergaris atau tegak), motif"Makkalu" (melingkar), motif "mallobang" (berkotak kosong), motif "Balo Renni" (berkotak kecil). sobbi'-sobbi', bunga lare', bori' kaca, remaja, cobbo', tunrung majang, bunga caggellung, sobbi' subhana, parabola, unga barelle. Harga yang dipatok cukup beragam, tergantung dari motiv dan coraknya, saat ini mulai Rp 300 ribu hingga 500 ribu per lembar.
Selain itu, juga ada yang mengkombinasikan atau menyisipkan "Wennang Sau" (lusi) timbul serta motif "Bali Are" dengan sisipan benang tambahan yang mirip dengan kain Damas.
Disamping gedogan, juga menggunakan Alat tenun bukan mesin (ATBM). ATBM ini pertama kali masuk dan di pergunakan di Kabupaten Wajo pada tahun 1950an, dimana pada awalnya hanya memproduksi kain sarung samarinda.
ATBM ini merupakan bentuk perlatan yang dapat membuat kain tenun yang tidak di gerakkan oleh tenaga mesin melainkan di gerakkan secara manual dengan tenaga manusia. ATBM di sebut juga alat tenun model TIB berasal dari kata “ testile inrichting Bandung “, karena lembaga inilah yang mula-mula menciptakan alat tenun ini di Indonesia sejak tahun 1912 .
Namun, pada tahun 1980an, ATBM ini sudah mulai memproduksi sarung sutera dengan motif balo tettong hingga dalam perkembangan selanjutnya ATBM bukan saja memproduksi kain sutera tetapi lebih di kembangkan dengan memproduksi kain motif testure polos, selendang, perlengkapan bahan pakaian, asesoris rumah tangga,hotel,kantor dan sebagainya berdasarkan permintaan pasar dan konsumen.
Kegiatan pengembangan persuteraan di Kabupaten Wajo dapat ditemui disemua Kecamatan yang ada, namun khusus dalam pengembangan persuteraan alam dan produksi benang sutera terkonsentrasi di Kecamatan Sabbangparu dan daerah pengembangannya tersebar di Kecamatan Pammana, Kecamatan Tempe, Kecamatan Bola, Kecamatan Gilireng, dan Kecamatan Majauleng.Sedangkan sentra industri penenunan sutera terdapat di Kecamatan Tanasitolo dan daerah pengembangannya tersebar di Kecamatan Tempe, Kecamatan Majauleng, dan Kecamatan Pammana.
Karena, jiwa enterpreneurship yang tinggi dimiliki masyarakat Wajo, sehingga berdampak pada tingginya motivasi mereka untuk mengembangkan komoditas sutera dengan berkreasi, sehinggaselalu mencar inovasi baru untuk menciptakan berbagai macam produk asal sutera bahkan menjalin hubungan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha Pertekstilan dari Pulau Jawa termasuk designer-designer ternama Indonesia. (Nurlina Arsyad)
==========================================
Awalnya, hanya dijadikan kain biasa, seiring perkembangan sudah jadi industri jadilan sarung sutera sengkang atau lipa' sa'bbe to Sengkang yang terkenal di seluruh penjuru tanah air. Bahkan, merambah ke luar negeri seperti Malaysia yang dibawa oleh para saudagar bugis. Kreativitas tidak sampai disitu, para perajin juga terus melakukan inovasi menyesuaikan dengan trend yang ada, jadilah kebaya dan selendang yang sering dikenakan ketika ada acara resmi seperi pertemuan atau pesta. Dan, saat ini, para perajin sudah mampu mendesain lebih keratif lagi sehingga merambah jadi batik.
Bagaimanakah awal perkembangan sutra di Wajo?
Sengkang merupakan Ibu Kota Kabupaten Wajo, masyarakatnya cukup dikenal dengan kepiawaiannya dalam berdagang. Hal itu yang menjadikan Sengkang populer dengan kota niaga . Tak pelak, jika masyarakatnya yang merantau di daerah lain, dominan sukses jadi saudagar.
Namun, disamping dikenal sebagai kota niaga, industri Sarung Sutera atau lipa' Sabbe yang semakin akrab ditelinga dan hati orang-orang yang pernah berkunjung ke kota ini, kelembutan dan kehalusan hasil tenunan sarung sutera ini sudah cukup dikenal bahkan hingga kemancanegara. Karena itu,Sengkang dijuluki sebagai kOta Sutra, sebab bisa menghasilkan berbagai produk dari Sutra.
Keberadaan Sutra di Wajo sudah ada sejak sekitar 1950-an, namun saat itu hanya produksi untuk rumah tangga saja berupa kain untuk dijadikan sarung biasa. Tapi, karena tuntutan jaman yang mengajak manusia untuk lebih kreatif, sehingga industri sutra menjadi sarung sudah mulai terjun di pasaran. Harganya pun sangat bervariasi, tergantung dari motiv dan corak. Proses pembuatannya juga cukup panjang, setelah murbey diolah sedemikian rupa sehingga menjadi benang sutra. Setelah itu, baru dilakukan proses pewarnaan pencelupan, kemudian dilakukan pemintalan hingga proses akhir penenunan.
Dalam proses penenunan benang sutera menjadi kain sarung sutera masyarakat pada umumnya masih menggunakan peralatan tenun tradisional yaitu alat tenun gedogan. Alat tenun ini merupakan alat tenun tradisional sederhana yang di gerakkan oleh tangan. Alat ini tersebar di pelosok di pedesaan di Kabupaten Wajo dan biasanya di gunakan secara turun menurun oleh para ibu-ibu rumah tangga dan para gadis desa. Hasil dari alat tenun gedogan lebih banyak dalam bentuk kerajinan tenun sutera (lipa' sabbe)yang di kenal dengan kerajinan tenun Sutera rumah tangga.
Produk yang dihasilkan cukup bervariasi dengan berbagai macam motif dan corak yang , diantaranya "Balo Tettong" (bergaris atau tegak), motif"Makkalu" (melingkar), motif "mallobang" (berkotak kosong), motif "Balo Renni" (berkotak kecil). sobbi'-sobbi', bunga lare', bori' kaca, remaja, cobbo', tunrung majang, bunga caggellung, sobbi' subhana, parabola, unga barelle. Harga yang dipatok cukup beragam, tergantung dari motiv dan coraknya, saat ini mulai Rp 300 ribu hingga 500 ribu per lembar.
Selain itu, juga ada yang mengkombinasikan atau menyisipkan "Wennang Sau" (lusi) timbul serta motif "Bali Are" dengan sisipan benang tambahan yang mirip dengan kain Damas.
Disamping gedogan, juga menggunakan Alat tenun bukan mesin (ATBM). ATBM ini pertama kali masuk dan di pergunakan di Kabupaten Wajo pada tahun 1950an, dimana pada awalnya hanya memproduksi kain sarung samarinda.
ATBM ini merupakan bentuk perlatan yang dapat membuat kain tenun yang tidak di gerakkan oleh tenaga mesin melainkan di gerakkan secara manual dengan tenaga manusia. ATBM di sebut juga alat tenun model TIB berasal dari kata “ testile inrichting Bandung “, karena lembaga inilah yang mula-mula menciptakan alat tenun ini di Indonesia sejak tahun 1912 .
Namun, pada tahun 1980an, ATBM ini sudah mulai memproduksi sarung sutera dengan motif balo tettong hingga dalam perkembangan selanjutnya ATBM bukan saja memproduksi kain sutera tetapi lebih di kembangkan dengan memproduksi kain motif testure polos, selendang, perlengkapan bahan pakaian, asesoris rumah tangga,hotel,kantor dan sebagainya berdasarkan permintaan pasar dan konsumen.
Kegiatan pengembangan persuteraan di Kabupaten Wajo dapat ditemui disemua Kecamatan yang ada, namun khusus dalam pengembangan persuteraan alam dan produksi benang sutera terkonsentrasi di Kecamatan Sabbangparu dan daerah pengembangannya tersebar di Kecamatan Pammana, Kecamatan Tempe, Kecamatan Bola, Kecamatan Gilireng, dan Kecamatan Majauleng.Sedangkan sentra industri penenunan sutera terdapat di Kecamatan Tanasitolo dan daerah pengembangannya tersebar di Kecamatan Tempe, Kecamatan Majauleng, dan Kecamatan Pammana.
Karena, jiwa enterpreneurship yang tinggi dimiliki masyarakat Wajo, sehingga berdampak pada tingginya motivasi mereka untuk mengembangkan komoditas sutera dengan berkreasi, sehinggaselalu mencar inovasi baru untuk menciptakan berbagai macam produk asal sutera bahkan menjalin hubungan kerjasama dengan pengusaha-pengusaha Pertekstilan dari Pulau Jawa termasuk designer-designer ternama Indonesia. (Nurlina Arsyad)
==========================================
Kamis, 03 Juni 2010
"Ambo.., Ban Sepedaku Robek..., Jalanan Rusak"
* Parodi "Oto-na Award" Meriahkan Malam Anugerah Otonomi Award 2010
"Ambo.., Ban Sepedaku Robek..., Jalanan Rusak"
SEBUAH keluarga sangat sederhana dilanda keributan. Selintas, persoalannya sepele. Itu kalau berlangsung dalam rumah tangga yang tegolong mampu. Namun, persoalan ini termasuk rumit karena melanda sebuah keluarga yang sangat pas-pasan.
Anak tunggal yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu tak henti-hentinya menangis. Ia bahkan terus merengek dan tidak mau pergi sekolah kalau tidak dibelikan sepeda. Sang Ayah (Ambo) yang notabene ketua RT, awalnya tidak mau mengerti.
"Pokoknya, tidak boleh "kaita-ita" (terpengaruh oleh orang lain). Ketika semua tetangga ramai-ramai beli sepeda mahal, mau juga beli sepeda. Cukup jalan kaki saja, karena hanya begitulah kemampuan kita," begitu ayah memberi wejangan kepada anaknya. Sang anak pun terus memberontak. Pokoknya, tidak mau pergi sekolah kalau tidak bersepeda. Sementara Ambo terus juga marah, bahkan memukul anaknya.
Seorang tetangga menegur, “Kenapa dipukul begitu. Nanti anakta sakit.”
“Biarmi, kan adaji kesehatan gratis,” sambut Ambo-na.
Bujukan Ibu (Indo) ternyata cukup ampuh. "Ambo-na, ini bukan persoalan 'kaita-ita’. Ini persoalan kelancaran pendidikan anak kita. Masak tiap hari terlambat terus gara-gara harus berjalan kaki begitu jauh."
"Itu masih kecil masalahnya. Saya, waktu dulu, pergi sekolah jalan kaki tujuh kilometer. Tidak pakai sepatu."
"Iya, tapi hasilnya...?"
"Lihat kaki saya..." (Ibu mengambil pentungan, lalu memukul telapak kaki Ambo-na. Bunyinya seperti gendang).
Ambo-na begitu bangga karena ke mana-mana tidak perlu pakai sendal. Berjalan di atas aspal panas pun tidak terasa. "Ya, hasilnya ini. Hemat, kan, ke mana-mana tidak perlu sendal ataupun sepatu."
Ibu menimpali, "Ambo-na, itu dulu, sekarang, anak-anak sudah memasuki dunia lain... eh, salah, maksudnya dunia yang lain-lain. Aduh, salah lagi…. Maksudnya, anak sekarang sudah lain. Anak-anak sekarang sudah pendidikan gratis. Tidak bayarmi SPP. Jadi, kita belikan saja sepeda kan, Ambo-na!"
Ambo-na berpikir sejenak. Ia menerawang, lalu berujar, "Iye pale, tapi jangan yang mahal-mahal na! Jangan yang seperti sepedanya Pak Aji itu, masak sepeda harganya Rp20 juta. Sama itu harganya sepetak sawah kita. Mau jual sawah? Tidaklah Indo-na. Kan katanya, kita mau hidup sederhana. Sekarang, sepeda sepertinya bukan lagi simbol hidup sederhana. Ada nda sepeda yang bisa ditukar beras? Itu saja ya kita beli!”
Masalah ternyata belum juga selesai. Sang anak sudah dibelikan sepeda, tapi ia menangis lagi. Kali ini sudah menyentuh bagian lain. Ia mengumpat-umpat jalanan yang rusak parah. Gara-gara jalanan itu, setiap hari ban sepedanya meletus. Peleknya bengkok. Maka kini, ia bukannya jalan kaki saja, melainkan lebih susah lagi karena ia harus memanggul sepedanya yang rusak seraya berteriak, “Ambo.., ban sepedaku robek..., jalanan rusak."
Keluarga ini makin kalut. Di tengah kekalutannya, mereka terhibur oleh kabar gembira. Apa itu? Ada pemberitahuan bahwa RT yang dipimpinnya memenangkan "Oto-na Award". Banyak piala yang ia akan boyong sebagai ketua RT. Salah satunya adalah sebagai RT yang warganya paling banyak punya oto (mobil) . RT ini juga yang paling banyak hajinya. Pokoknya, inilah RT yang paling kaya di desa itu, sementara ketua RT-nya paling sederhana dalam hidup sehari-hari.
Kelucuan pun tampak di adegan ini karena Pak RT tidak sanggup membawa pialanya. Ia pun gemetar berpidato seraya berkali-kali menyapa istrinya yang turut menonton penerimaan penghargaan tersebut.
Tema parodi di atas begitu simbolik di tengah-tengah makin gemerlapnya hidup dan kehidupan manusia. Sepeda yang zaman dulu menjadi ikon sebuah kesederhanaan, kini memasuki wilayah elitis. Sepeda sudah menjadi barang mahal yang makin mengeksklusifkan kaum berada dan semakin memarginalkan kaum tak berpunya. Sepeda dengan alasan untuk kesehatan jantung, justru menjadi pemisah jurang “kaum miskin-anak rakyat” dengan kaum berpunya anak pejabat.
Betapa tidak, “kaum miskin-anak rakyat” dengan sepeda ontelnya itu malu bergabung dengan mereka yang bersepeda mewah. Sebaliknya, para pesepeda mahal yang notabene dari kalangan pejabat yang menyuarakan hidup sederhana itu juga berjalan dengan sesama kelompoknya.
Untunglah RT yang dipimpin Ambo-na dalam parodi ini cepat-cepat mengingatkan kita sebuah konten hidup sederhana seorang pejabat. Ambo-na telah berani menanggung risiko hidup sederhana di tengah-tengah warganya yang hidup bergelimang harta. RT yang warganya paling banyak mobilnya dan paling banyak hajinya, sementara ketua RT-nya hanya mampu memiliki sepeda. Itu pun atas desakan anak demi kepentingan sekolah. Inilah sebuah kepemimpinan dari kampung yang bebas dari aroma korupsi.
(Halaman budaya Harian FAJAR, Edisi Minggu, 30 mei 2010)
"Ambo.., Ban Sepedaku Robek..., Jalanan Rusak"
SEBUAH keluarga sangat sederhana dilanda keributan. Selintas, persoalannya sepele. Itu kalau berlangsung dalam rumah tangga yang tegolong mampu. Namun, persoalan ini termasuk rumit karena melanda sebuah keluarga yang sangat pas-pasan.
Anak tunggal yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar itu tak henti-hentinya menangis. Ia bahkan terus merengek dan tidak mau pergi sekolah kalau tidak dibelikan sepeda. Sang Ayah (Ambo) yang notabene ketua RT, awalnya tidak mau mengerti.
"Pokoknya, tidak boleh "kaita-ita" (terpengaruh oleh orang lain). Ketika semua tetangga ramai-ramai beli sepeda mahal, mau juga beli sepeda. Cukup jalan kaki saja, karena hanya begitulah kemampuan kita," begitu ayah memberi wejangan kepada anaknya. Sang anak pun terus memberontak. Pokoknya, tidak mau pergi sekolah kalau tidak bersepeda. Sementara Ambo terus juga marah, bahkan memukul anaknya.
Seorang tetangga menegur, “Kenapa dipukul begitu. Nanti anakta sakit.”
“Biarmi, kan adaji kesehatan gratis,” sambut Ambo-na.
Bujukan Ibu (Indo) ternyata cukup ampuh. "Ambo-na, ini bukan persoalan 'kaita-ita’. Ini persoalan kelancaran pendidikan anak kita. Masak tiap hari terlambat terus gara-gara harus berjalan kaki begitu jauh."
"Itu masih kecil masalahnya. Saya, waktu dulu, pergi sekolah jalan kaki tujuh kilometer. Tidak pakai sepatu."
"Iya, tapi hasilnya...?"
"Lihat kaki saya..." (Ibu mengambil pentungan, lalu memukul telapak kaki Ambo-na. Bunyinya seperti gendang).
Ambo-na begitu bangga karena ke mana-mana tidak perlu pakai sendal. Berjalan di atas aspal panas pun tidak terasa. "Ya, hasilnya ini. Hemat, kan, ke mana-mana tidak perlu sendal ataupun sepatu."
Ibu menimpali, "Ambo-na, itu dulu, sekarang, anak-anak sudah memasuki dunia lain... eh, salah, maksudnya dunia yang lain-lain. Aduh, salah lagi…. Maksudnya, anak sekarang sudah lain. Anak-anak sekarang sudah pendidikan gratis. Tidak bayarmi SPP. Jadi, kita belikan saja sepeda kan, Ambo-na!"
Ambo-na berpikir sejenak. Ia menerawang, lalu berujar, "Iye pale, tapi jangan yang mahal-mahal na! Jangan yang seperti sepedanya Pak Aji itu, masak sepeda harganya Rp20 juta. Sama itu harganya sepetak sawah kita. Mau jual sawah? Tidaklah Indo-na. Kan katanya, kita mau hidup sederhana. Sekarang, sepeda sepertinya bukan lagi simbol hidup sederhana. Ada nda sepeda yang bisa ditukar beras? Itu saja ya kita beli!”
Masalah ternyata belum juga selesai. Sang anak sudah dibelikan sepeda, tapi ia menangis lagi. Kali ini sudah menyentuh bagian lain. Ia mengumpat-umpat jalanan yang rusak parah. Gara-gara jalanan itu, setiap hari ban sepedanya meletus. Peleknya bengkok. Maka kini, ia bukannya jalan kaki saja, melainkan lebih susah lagi karena ia harus memanggul sepedanya yang rusak seraya berteriak, “Ambo.., ban sepedaku robek..., jalanan rusak."
Keluarga ini makin kalut. Di tengah kekalutannya, mereka terhibur oleh kabar gembira. Apa itu? Ada pemberitahuan bahwa RT yang dipimpinnya memenangkan "Oto-na Award". Banyak piala yang ia akan boyong sebagai ketua RT. Salah satunya adalah sebagai RT yang warganya paling banyak punya oto (mobil) . RT ini juga yang paling banyak hajinya. Pokoknya, inilah RT yang paling kaya di desa itu, sementara ketua RT-nya paling sederhana dalam hidup sehari-hari.
Kelucuan pun tampak di adegan ini karena Pak RT tidak sanggup membawa pialanya. Ia pun gemetar berpidato seraya berkali-kali menyapa istrinya yang turut menonton penerimaan penghargaan tersebut.
Tema parodi di atas begitu simbolik di tengah-tengah makin gemerlapnya hidup dan kehidupan manusia. Sepeda yang zaman dulu menjadi ikon sebuah kesederhanaan, kini memasuki wilayah elitis. Sepeda sudah menjadi barang mahal yang makin mengeksklusifkan kaum berada dan semakin memarginalkan kaum tak berpunya. Sepeda dengan alasan untuk kesehatan jantung, justru menjadi pemisah jurang “kaum miskin-anak rakyat” dengan kaum berpunya anak pejabat.
Betapa tidak, “kaum miskin-anak rakyat” dengan sepeda ontelnya itu malu bergabung dengan mereka yang bersepeda mewah. Sebaliknya, para pesepeda mahal yang notabene dari kalangan pejabat yang menyuarakan hidup sederhana itu juga berjalan dengan sesama kelompoknya.
Untunglah RT yang dipimpin Ambo-na dalam parodi ini cepat-cepat mengingatkan kita sebuah konten hidup sederhana seorang pejabat. Ambo-na telah berani menanggung risiko hidup sederhana di tengah-tengah warganya yang hidup bergelimang harta. RT yang warganya paling banyak mobilnya dan paling banyak hajinya, sementara ketua RT-nya hanya mampu memiliki sepeda. Itu pun atas desakan anak demi kepentingan sekolah. Inilah sebuah kepemimpinan dari kampung yang bebas dari aroma korupsi.
(Halaman budaya Harian FAJAR, Edisi Minggu, 30 mei 2010)
Jumat, 11 September 2009
Percikan Alami Kota Kecilku ditengah Realitas Hidup Di Metropolitan....
Kutatap dari jauh hingar bingar kendaraan lalu lalang dengan suara bising disudut kota metroplolis ini. Bangunan yang tinggi nan megah nampak bagai raksasa yang siap menerkam bangunan-bangunan kecil yang ada disekelilingnya. Matahari semakin redup pertanda waktu akan berganti dari sore menjadi malam. Terlihat dipinggir jalan ramai penjajal es dan aneka kue untuk menu buka puasa bagi mereka yang sementara berada dijalan maupun mereka yang tidak ingin susah masak seperti anak kost atau mereka yang super sibuk.
Saya teringat waktu suasana puasa dikampung, saat itu masih duduk di bangku SMA dulu, maklum semasa kuliah di Makassar jarang pulang pada saat musim puasa. Setiap sore disepanjang jalan hanya terlihat anak-anak berkumpul bermain, ada yang naik sepeda kesana-kemari ada pula yang kejar-kejaran, sesekali bunyi kendaraan melintas dijalan. Maklum, tanah kelahiranku adalah kawasan pinggiran kota dengan infrastruktur jalan yang belum memadai. Padahal masih termasuk wilayah kota Sengkang. Sejuk terasa melihat pemandangan setiap sore dipenuhi dengan canda-tawa anak-anak itu. Berkumpul bersama keluarga sambil tunggu azan mesjid berkumandang.
Kini, selama kurang lebih empat tahun lamanya, nyaris tidak pernah merasakan indahnya kebersamaan bersama mereka, menikmati sejuknya angin sepoi-sepoi dari pepohonan yang ada. Sungai jernih yang membentang dari arus sungai Kabupaten Soppeng, nyaris selalu ramai disore hari oleh nyanyian muda-mudi.
Ahh..., Ingin rasa pulang menikmati nuansa alam yang selalu membuat hati damai, yang jauh dari kebisingan dan gedung-gedung mewah ditengah banyaknya tempat-tempat kumuh dan terisolir. Kepala tiap hari penat dengan asap kendaraan yang melintas dan debu beterbangan. Terkadang air PDAM tidak mengalir, sehingga harus ngirit air.
Percikan alami sebuah kota kecil bersama sanak keluarga jauh lebih Indah dan mendatangkan kedamaian......
Kamis, 03 September 2009
Kearifan lokal ditengah realitas sosial Arus Modern
Perkembangan arus globalisasi dewasa ini pasca reformasi, perlahan-lahan memasuki disegala sendi kehidupan. Baik itu ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Efek-efek yang kemudian ditimbulkan berpengaruh besar terhadap perkembanagn masyarakat dan kemajuan teknologi di indonesia. Namun efek lainnya nyaris menggorogoti budaya-budaya yang ada dalam kehidupan sosial yang menjadi ciri dan identitas bangsa. Betapa tidak, generasi muda khususnya, dalam konteks hari ini nyaris tidak mengenal lagi budaya lokal yang menjadi warisan nenek moyang. Sebut saja misalnya, dikalangan mahsiswa sendiri mereka lebih sibuk mengkaji dan memperdalam sejarah dan tokoh-tokoh barat disepanjang awal peradaban sampai memasuki era modern atau yang lebih dikenal sebagai postmodernism tanpa mengenal dan mengkaji peristiwa-peristiwa penting disepanjang perjalanan bangsa ini untuk direfleksi ulang dan dijadikan refrensi untuk "wajah" bangsa masa akan datang, oontohnya bagaimana sejarah perjuangan tokoh-tokoh lokal seperti sultan hasanuddin dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, bagaimana sejarah peradaban islam di Indonesia , sejarah lahir dan terbentuknya pulau-pulau yang ada di Nusantara sehingga disebut NKRI dll.
Bukan hanya itu, Unsur-unsur kearifan lokal yang menjadi ciri khas suatu daerah seperti, adat-istiadat, Etika dan kebiasaan sudah perlahan-lahan luntur. Misalnya, di setiap even-even masyarakat kita lebih cenderung menampilkan hal-hal yang mengarah ke erotis seperti dancing, salsa, koreografi dibanding tari-tarian tradisional. Disetiap perhelatan atau pesta lebih cenderung memakai busana-busana atau gaung dengan model ala mariah carey atau britney spears dibanding dengan produk negeri sendiri seperti kebaya dan batik.
Dikalangan dunia mahasiswa sendiri, Budaya-budaya pencerahan intelektual, seperti diskusi, kajian dan pengkaderan yang intensif sudah mulai jarang terlihat. mereka juga sudah terpolarisasi dengan budaya pop yang ada dan hura-hura, sehingga tanpa sadar mereka telah terjurumus menjadi budak dari barang haram yang mematikan (Narkoba dkk) . Dan bagi mereka yang menganggap dirinya anti kemapanan (anti kapitalis) justru terlibat dengan politik-politik praktis, sehingga fungsi dan peranannya sebagai pengontrol sosial untuk kepentingan masyarakat kecil justru terabaikan.
Perkembangan arus globalisasi dewasa ini pasca reformasi, perlahan-lahan memasuki disegala sendi kehidupan. Baik itu ekonomi, sosial, politik maupun budaya. Efek-efek yang kemudian ditimbulkan berpengaruh besar terhadap perkembanagn masyarakat dan kemajuan teknologi di indonesia. Namun efek lainnya nyaris menggorogoti budaya-budaya yang ada dalam kehidupan sosial yang menjadi ciri dan identitas bangsa. Betapa tidak, generasi muda khususnya, dalam konteks hari ini nyaris tidak mengenal lagi budaya lokal yang menjadi warisan nenek moyang. Sebut saja misalnya, dikalangan mahsiswa sendiri mereka lebih sibuk mengkaji dan memperdalam sejarah dan tokoh-tokoh barat disepanjang awal peradaban sampai memasuki era modern atau yang lebih dikenal sebagai postmodernism tanpa mengenal dan mengkaji peristiwa-peristiwa penting disepanjang perjalanan bangsa ini untuk direfleksi ulang dan dijadikan refrensi untuk "wajah" bangsa masa akan datang, oontohnya bagaimana sejarah perjuangan tokoh-tokoh lokal seperti sultan hasanuddin dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan, bagaimana sejarah peradaban islam di Indonesia , sejarah lahir dan terbentuknya pulau-pulau yang ada di Nusantara sehingga disebut NKRI dll.
Bukan hanya itu, Unsur-unsur kearifan lokal yang menjadi ciri khas suatu daerah seperti, adat-istiadat, Etika dan kebiasaan sudah perlahan-lahan luntur. Misalnya, di setiap even-even masyarakat kita lebih cenderung menampilkan hal-hal yang mengarah ke erotis seperti dancing, salsa, koreografi dibanding tari-tarian tradisional. Disetiap perhelatan atau pesta lebih cenderung memakai busana-busana atau gaung dengan model ala mariah carey atau britney spears dibanding dengan produk negeri sendiri seperti kebaya dan batik.
Dikalangan dunia mahasiswa sendiri, Budaya-budaya pencerahan intelektual, seperti diskusi, kajian dan pengkaderan yang intensif sudah mulai jarang terlihat. mereka juga sudah terpolarisasi dengan budaya pop yang ada dan hura-hura, sehingga tanpa sadar mereka telah terjurumus menjadi budak dari barang haram yang mematikan (Narkoba dkk) . Dan bagi mereka yang menganggap dirinya anti kemapanan (anti kapitalis) justru terlibat dengan politik-politik praktis, sehingga fungsi dan peranannya sebagai pengontrol sosial untuk kepentingan masyarakat kecil justru terabaikan.
Langganan:
Postingan (Atom)